Pertemuan dan Pilihan

indeciso

“Jogja sepertinya jadi tempat yang cocok buat tenangkan pikiran” gumam Akbar. Tepat hari itu sudah dua minggu dari cerita kelabunya. Sang tunangan memilih pergi saat hari H tukar cincinnya. Tak mudah memang, sudah 3 tahun ia menjalin kisah dengan Nindi, gadis cantik temannya semasa kuliah. Hiburan selalu datang dari semua orang yang dekat dengan Akbar, meski senyum tersungging di bibir, tapi rasa sedih belumlah berakhir.

Meski jatahnya habis, pak bos mengizinkan saat Akbar meminta cuti lagi. Jumat berangkat dari Jakarta, Senin siang balik dari Jogja. Demikian rencana Akbar untuk menyembuhkan luka hatinya. Jogja memang selalu jadi tempat kontemplasi bagi Akbar. Saat sang ibu berpulang, ia sampai satu bulan harus berada di Jogja untuk menutupi rasa kehilangannya. Saat itu ia masih bekerja di sebuah portal berita olahraga, 1bekerja dengan sistem remote tak membuat redakturnya keberatan asal deadline berita dikirim tepat waktu.

KA Progo siap mengantar para penumpangnya dari Pasar Senen menuju Lempuyangan Jogja. Untuk seorang Copywriter sekelas Akbar agak aneh sebenarnya jika memilih Progo sebagai Continue reading “Pertemuan dan Pilihan”

Advertisements

Lembaran yang Datang dan Terenggut Waktu

Hujan baru saja mengguyur malam yang gelap di sudut kota yang penuh dengan kesenduan. Entah apa yang terjadi dalam kehidupanku sehingga banyak tanda tanya dalam kepalaku yang rambutnya satu persatu memutih bahkan rontok. Dalam pikiranku mereka masih terus menyayangiku dan tidak pernah pergi. Semua kebahagiaan begitu cepat berlalu sedangkan kesedihan sangat lama dan terlalu dalam sehingga raga dan perasaanku tak karuan. Seorang Ayah dengan kebahagiaan yang luar biasa kini tidak untuk diriku lagi. Bagiku mencintai istri yang cantik, baik, dan pintar adalah kebanggaan. Ditambah karunia yang Tuhan titipkan berupa seoarang anak perempuan yang sehat dan tidak mendapat warisan gen dariku.

Aku baru saja nge-gym mengahabiskan seluruh tenagaku dan mencoba meluapkan kekalahanku. Tentang sebuah percintaan yang kandas dan sebuah drama ayah dengan seorang anak yang terpisah membuat setengah tulang dalam tubuhku terasa rapuh. Walau begitu semua tenaga yang aku miliki tidak habis. Keinginan untuk terus bergerak dan bergerak bukan datang dari hasrat diriku melainkan gangguan yang ada pada diriku. Warisan genetik seumur hidup yang menyebabkan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Telah lama aku tidak seperti ini dalam tiga tahun belakangan. Aku selalu bisa mengontrol apa yang membuatku lemah di mata orang-orang. Semua itu karena kehadirannya dalam hidupku. Aku juga seakan lebih banyak menyalurkan energiku untuk melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci dan membersihkan rumah saat istriku lelah sepulang dari tempat bekerja. Selain itu, prilaku hiperaktif itu tersalurkan dengan bermain sepanjang hari saat bermain dengan buah hati kami.

Malam ini, semua yang begitu indah dan membuatku berubah seperti direnggut seketika. Sudah sebulan belakangan aku menemukan beberapa hal yang membuatku begitu gelisah. Hampir setiap hari pula aku menyaksikan istriku diantar oleh sebuah sedan mewah berwarna hitam. Bahkan, dia tidak ingin kujemput lagi dan menolak diantar ke tempatnya bekerja. Sebagai laki-laki yang mencintainya aku selalu menanamkan rasa percaya padanya sejak aku mengucap janji di depan penghulu.

Pertemuanku dengan istriku berawal dari sebuah pesta pernikahan teman semasa SMP. Sebuah pertemuan yang sangat singkat setelah lama tidak bertemu karena meneruskan pendidikan masing-masing. Malam itu semua teman-temanku dulu tidak datang sendiri karena sebagian besar telah menikah dan mempunyai anak. Seorang teman yang selalu mengajakku bermain dulu tiba-tiba menyapaku di meja penyambutan tamu.

“Astaga…. friend-ku..! Apa kabar lo bro?” dia menjabat tanganku erat dan menepuk keras pundakku.

“Edo…! Wah, tambah berisi badan kamu sekarang!” ujarku sambil menyambut tangannya yang berotot dengan tenagaku.

“Ya… iyalah nggak mungkin gua terus-terusan cungkring boy. Ini bukan masa SMP lagi, emangnya lo dari dulu gembul aja nggak berubah..hahahaha” tawanya menggelegar.

“Edo apa? Edo Rafikal Syaqi..Mana teman-teman yang lain?” tanyaku.

“Mereka ada di sana, gua sama istri dan anak gua lagi makan. Jadi nanti gua nyusul, oke!”

“Oke…” ujarku sambil beranjak pergi.

Sebenarnya semua badanku seolah tidak bisa diam karena ingin bergerak kesana dan kemari. Aku lihat semua orang di pesta pernikahan itu melihatku keheranan. Tiba-tiba ada suara perempuan memanggilku dari belakang.

“Igo…Hey..!”Ujarnya menyapaku

Aku mencari-cari suara itu. Padahal jika orang normal pasti langsung melihat dari mana sumber suara itu berada. Tapi aku masih asyik melihat suara musik yang ada di depanku. Dari dulu aku memang selalu tertarik dengan alat elektronik. Bahkan hingga saat ini, di usiaku yang tidak muda dan sudah cukup untuk membangun rumah tangga.

“Igo…. hey… I am here, Igo…!”

Suara itu masih terus memanggilku. Hingga ia datang mengahampiriku.

“Ya ampun Igo…..kamu masih saja sama ya” ujarnya sambil mengeglengkan kepalanya dan tertawa keras di depan ku.

“Hey…!” aku hanya mengucapkan kata itu.

“Lah, kamu pasti lupa dengan aku ya.”

“Tidak…tidak..tidak…Kanya apa?”

“Yah… masih sama saja kamu ya..” ujarnya tidak percaya.

Sejak dulu aku selalu mengingat nama temanku satu persatu. Tidak hanya nama tetapi juga nama lengkapnya yang ku ulang terus menerus serta menuliskan nama lengkap semua orang di sekolah di papan tulis kelas. Sebenarnya aku dengan mudah mengingat nama lengkap teman perempuanku itu namun ada rasa ingin mengjahilinya seperti masa lalu. Setiap orang yang ku kenal pasti paham dengan kebiasaan ku mengucapkan nama awal dan menanyakan nama belakangnya. Itulah yang kulakukan malam itu pada Kanya. Teman perempuan di kelas SMP yang paling berhasil membuat aku hapal dengan kegiatan apa saja yang sedang kami lakukan. Karena ia yang selalu menemani saat aku kesulitan mengerjakan sesuatu selain guru pendampingku masa itu.

“Hey…kenapa bengong?” ujarnya.

“Kanya Sofiana Arsyanti” ujarku sambil merapatkan tanganku seperti memberi salam.

“Ya ampun.. kamu keren benget, masih saja ingat nama lengkapku ya Igo..ckckck” ia berdecak kagum.

“Ke sini sama siapa? ..sama siapa?” tanyaku berulang-ulang.

Aku memang seperti itu, terbiasa bertanya berkali-kali. Terkadang membuat orang lain merasa lelah menjawab pertanyaanku.

“Aku sendirian saja Igo, ayo kita gabung dengan teman-teman” ajak Kanya.

“Hahahaha..”aku menggandeng tangannya.

Kebiasaanku dari dulu ketika nyaman dengan orang yang aku kenali aku akan menggandeng tangannya. Kami bergandengan seperti layaknya kekasih. Kanya pun rupanya masih paham dengan kebiasaanku itu sehingga tidak risih saat kami bergandengan. Aku pun tersenyum-seyum berjalan dengannya hingga hiruk pikuk teman-temanku menambah riuh pesta.

“Hey… Gila lo Kanya udah jadian aja sama Igo,” ujar seorang temanku yang bernama Elya sambil tertawa.

“Hahaha… sumpah lo harus traktir kami Go…!” Fandi menimpalinya.

“Hey.. kami mah tidak jadian tau,” ujar Kanya meluruskan.

“Hahaha…”Aku hanya tertawa.

***Bersambung***

 

 

 

 

De Javu

Oleh : Aga Ridwan

Bagian Pertama : Jamie

Bandung, April 2014

Angin malam berembus halus, membelai setiap celah dedaunan, menyusuri alur yang tercipta secara alami. Sorot lampu menerpa pria dengan rambut bergelombang sebahu itu, kuningnya cahaya memamerkan seraut wajah penuh penghayatan. Rahangnya bergerak, suara keluar dari sarang tempat persembunyiannya, berpadu membentuk harmonis dengan setiap nada yang tepat pada pijakannya. Jari kirinya bertugas menekan setiap fret gitar yang mencipta akor mayor dan minor. Jari kanannya menari menggelitik enam senar gitar dengan diameter dan rentang nada yang berbeda.

Halus lembut suaramu

Menyuarakan makna tersirat

Tanpa kata tanpa bicara

Cokelat indah matamu sampaikan segalanya

Tercipta kor dadakan setiap kali tembang itu dilantunkan. Puluhan penonton yang hadir ikut meramaikan malam yang syahdu diantara pepohonan dan udara sejuk di kota itu. Penonton solo, duo ataupun gerombolan, semuanya larut dalam suasana itu.

It’s not just a dream

It’s my pray

My pray to spent time with you

My pray for our love

Bait terakhir menutup penampilannya di atas panggung yang tingginya hanya selutut orang dewasa. Jamie adalah musisi yang menjadi penutup acara bersenandung bersama alam malam itu. Riuh penonton perlahan berganti menjadi hening yang beradu dengan suara serangga dan suara gesekan dari set akustik yang sedang dirapihkan.

Sebuah tepukan mendarat di bahu sebelah kanan Jamie yang diisusul dengan sebuah rangkulan. “Malam ini sukses abis!” seru Edi mengacungkan jempol kirinya.

Dalam perjalanan karier bermusiknya di dunia musik independen, Edi dipercaya Jamie untuk mengurus jadwal manggung dan mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk penampilannya. Mereka berdua adalah teman semenjak masih duduk di bangku sekolah. Sewaktu SMA, mereka kerap meluangkan waktu bersama untuk menghadiri acara musik band – band lokal, apapun genre musiknya. Mulai dari pop, punk, rock, sampai metalpun mereka sikat habis. Hingga kini, mereka berdua menjadi partner dalam dunia yang mereka senangi.

“Gimana Ed, si Soni udah beres?”

“Udah, tinggal angkat amplifier sama pedal board aja. Gitarnya udah naik duluan.” Jawab Edi.

“Oke berangkat sekarang yuk!” Jamie mulai bergerak menyalami kawan – kawan musisi dan kru yang masih ada di lokasi untuk pamit lebih dulu. Kakinya melangkah melewati setapak menuju sebuah mobil perkotaan yang terparkir didepan warung nasi yang sudah tutup, diiringi dua kawannya dibelakang.

“Makan dulu yuk, laper banget nih.”

“Nah gitu dong Jam, kedai biasa ya!” seru Soni.

“Baru juga makan nasi kotak di belakang panggung, udah laper lagi. Jangan bilang gara – gara kedinginan jadi gampang laper?” kata Edi sambil membuka pintu mobilnya.

Hanya seutas senyum yang ditunjukkan Soni, tapi itu cukup untuk menjawab pernyataan dan pertanyaan Edi.

Mobil itu melaju meninggalkan taman kota, bergerak untuk segera menghilangkan bebunyian sumbang yang sesekali muncul dari perut tanpa aba – aba sang dirijen.

*

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, namun jalanan masih cukup ramai. Banyak mobil bernomor polisi luar kota yang berkunjung untuk menikmati suasana Bandung malam hari.

“Minggu depan jadi kan nonton mini konsernya Ezra?” tanya Soni dari bangku belakang.

“Jadi dong, itung – itung perpisahan sebelum dia balik ke UK” sahut Edi yang duduk dibalik kemudi. “Iya kan Jam?”

“Lagian ada – ada aja si Ezra mah, hidup di Bandung, gede di Bandung, eh malah kuliah di UK. Mana jauh lagi dari passionnya di dunia musik.” Potong Soni.

Jamie menoleh kebelakang, mendapati Soni yang sedang memeluk erat gitar kesayangan Jamie, menjaganya dari lecet dan rusak akibat benturan.

“Harus dateng pastinya,” tukas Jamie. “Ezra sih pernah bilang gini di salah satu surel yang dia kirim waktu masih sebulan tinggal di UK.”

‘Kadang hidup itu harus seimbang. Menyeimbangkan antara kemauan pribadi dan kemauan orang terdekat. Jangan terlalu egois pada keinginan diri sendiri dan larut dalam dunia kita sendiri, hingga melupakan orang – orang yang pernah dan masih mendukung kita sampai saat ini.

Seorang Ezra yang kau kenal saat ini berasal dari banyak elemen pendukung, salahsatunya keluarga. Mungkin aneh sih kalo dipikir – pikir, sehari – hari gabung sama kalian, kolaborasi bareng, berkarya bareng. Eh, tiba – tiba lompat ke dunia yang jauh dari keseharian. Tapi, bukankah kita akan melakukan apapun untuk keluarga dan orang – orang yang kita sayangi?

Impian pribadi memang penting untuk diwujudkan, namun kita juga harus membawa kebahagiaan untuk orang – orang yang sudah menitipkan kepercayaannya. Intervensi tak melulu tentang pandangan negatif, terkadang intervensi bisa membawa variasi dalam hidup kita. Lebih banyak sudut pandang yang bisa kita ambil. Lagian, aku disini masih bisa menikmati musik dan napak tilas ke tempat – tempat band legendaris yang sama – sama menginspirasi kita. Kali aja bisa ketemu Thom Yorke lagi ngopi di warung kopi sambil makan mie rebus hehehe’

“Being idealis on the right time,” tutupnya.

*

Telepon genggam Jamie berbunyi, sebuah pesan masuk. “Jam, aku gak jadi ikut makan bareng kalian malam ini ya, ada urusan keluarga.”

Edi bisa membaca jelas perubahan raut muka Jamie setelah dia membaca pesan itu. “Dian gak jadi ikut Jam?”

“Iya, gak jadi … “ kalimatnya terhenti ketika mobil yang ditumpanginya ikut berhenti mendadak.

Mata membelalak, pandangan kosong, lengan menegang, jemari menggenggam erat kemudi.

“Kenapa Ed?” tanya Soni panik.

“G.. ga.. gatau…, kayaknya aku nabrak sesuatu,” jawab Edi gelagapan.

Jamie membuka pintu dan langsung turun untuk mengecek keadaan Diperhatikannya bagian depan mobil itu, tidak ditemukan apapun. Begitupun dengan bagian samping kanan dan kirinya, tak ada sesuatu yang aneh.

“Coba liat dikolong mobil Jam,” teriak Soni yang baru keluar dari mobil.

Perlahan Jamie mengintip bagian bawah mobil, penasaran. Begitu pandangannya sampai ke bagian bawah, dia hanya menemukan sebuah benda yang mengkilap. Jamie mengambil benda itu, sebuah kalung bertuliskan huruf ‘K’. ‘Kalung?’ lirihnya dalam hati.

“Gimana Jam?” Tanya Soni setengah berjongkok.

Jamie menggenggam kalungnya dan buru – buru bangkit berdiri. “Gak ada yang aneh kok, cuma nemuin ini aja di kolong mobilnya.”

“Ah syukurlah, kayaknya aku mesti gantian nyetir sama Edi. Kasian wajahnya shock abis.”

Soni mengambil alih kemudi, Edi duduk di jok sebelahnya, sedangkan Jamie duduk dibelakang. Mobil itu kembali melaju meninggalkan sisa – sisa ketegangan yang semula dirasakan.

“Tapi aku tadi yakin banget, aku tuh nabrak sesuatu,” jelas Edi dengan sangat yakin.

“Udah Ed, gak ada apa – apa kan? Santai aja, mungkin kamu cuma lapar dan lelah, makanya jadi gak fokus. Iya kan Jam?”

“.. iya, santai aja Ed,” jawab Jamie setelah menyadari ada jeda akibat pikirannya yang menerawang kejadian barusan.

Masih ada yang mengganjal di hati Jamie. Jamie merasa kejadian tadi pernah dialaminya, namun Jamiepun tak yakin dengan apa yang sedang dipikirkannya. ‘De Javu,’ lirihnya dalam hati.

Bagian Kedua : Pertemuan

Bandung, Juni 2012

Pendar lampu terpancar dari kejauhan, langit malam itu cukup cerah untuk menikmati pemandangan di atas kota kala langit gelap. Titik – titik cahaya nampak dari tiap – tiap rumah. Muda mudi kota kembang berkumpul dan berbaris menuju sebuah bangunan kaca yang berbentuk segitiga sama kaki dengan tinggi puncak delapan meter. Masing – masing dari mereka mengeluarkan telepon genggam yang berisi kode rahasia sebagai tiket masuk acara tersebut.

“Aa, boleh ikut buka email?” tanya seorang gadis dibelakang antrian. “Teleponku habis baterai nih, dipakai GPS kesini.”

“Mmm … boleh silahkan”

Gadis itu mengulurkan tangan kanannya sesaat setelah mengambil telepon genggam itu. “Oh iya kenalin, saya Dian.”

“Saya Jamie,” balasnya.

Tangan itu kembali sibuk membuka laman untuk masuk kedalam akun surelnya dan mencari – cari kode rahasia yang sudah diterimanya siang tadi.

“Aha, ketemu juga akhirnya,” teriak Dian. “Nih Aa dulu yang scan kodenya.”

Antrian itu semakin pendek dan masuk pada giliran Jamie. Jamie menunjukkan kode miliknya kepada seorang petugas dengan Barcode Scaner yang sering digunakan di supermarket di tangan kanannya.

“Satu lagi yang ini ya,” kata Jamie sambil menggeser screenshot yang ada pada ponselnya.

“Pacarnya ya kang?” tanya petugas itu pada Jamie. “Jarang lho pasangan dapet tiket barengan gini.”

Jamie dan Dian saling berpandangan, ada canggung yang tercipta diantara mereka akibat kalimat yang menyembur seenaknya dari petugas tadi.

“Sistemnya kan pesan perorangan, jadi kemungkinan dapet sama pasangan itu kecil banget,” lanjutnya. “Good luck, selamat menikmati pertunjukan musik malam ini.”

Jamie dan Dian melangkahkan kaki meniti satu persatu anak tangga untuk mencapai pintu masuk diatas sana. Sesampainya di atas, nampak beberapa penonton mengelilingi sebuah meja yang berisi pernak – pernik yang dijual khusus pada saat acara ini digelar. Sebagian besar penonton sudah masuk dan memenuhi bagian paling depan sampai ke tengah dengan duduk bersila dibelakang garis kuning. Para fotografer sudah bersiap di kanan kiri panggung dan juga di depan garis kuning di depan panggung, ikut duduk bersila.

“Udah lama suka sama band ini?” Tanya Jamie memecah keheningan yang terjadi pada mereka berdua sejak pintu masuk tadi.

“Lumayan, cuma baru kali ini dapet kesempatan nonton mereka secara langsung.”

Percakapan itu berlanjut pada lagu kesukaan, band kesukaan, pengalaman nonton yang paling berkesan, sampai cerita tentang hal – hal menarik selama menyaksikan pertunjukan musik. Bagai kawan lama yang berjumpa kembali, percakapan itu mengalir begitu saja sampai – sampai jeda waktu menunggu band naik panggungpun tak terasa.

Pertunjukan dimulai, gitar berselancar lebih dulu memulai melodi dengan cara dieja. Bass menyusul, bersuara menirukan melodi sang gitaris dengan maksud membentuk harmoni. Terompet dan piano berjalan beriringan menyusul barisan. Drum berlari dengan dentum yang cepat, memecah barisan teratur menjadi pola nada acak yang berulang secara teratur. Suara wanita masuk kedalam lingkar musik, menyempurnakan paduan suara yang terbentuk. Penonton ikut menjadi paduan suara yang terbentuk secara otomatis ketika lagu – lagu yang mereka hafal dimainkan. Sebuah konser adalah ajang karaoke masal antara musisi dengan para penggemarnya.

Sesekali Jamie memerhatikan Dian yang ikut bernyanyi sambil membetulkan poni rambutnya dan menaruhnya dibalik daun telinga sebelah kanan. Dian hampir hafal semua lagu kecuali lagu yang baru saja diperkenalkan malam itu sebagai bocoran materi album berikutnya. Dian melempar senyum kala menemukan dirinya sedang diperhatikan sembari mulut terus menyanyikan lagu yang sedang dimainkan.

*

Pertunjukan selesai, semua yang hadir mulai bubar secara teratur. Percakapan sambil lalu terdengar dari masing – masing yang hadir. Kebanyakan dari mereka puas dengan penampilan band kesukaan mereka malam ini.

“Pulang kemana Dian?” Tanya Jamie sambil menuruni tangga.

“Ke Pasteur Jam”

Jamie menangkap keraguan dalam raut wajah Dian, seperti ada yang sedang dipikirkan.“Pulang sendiri?”

“Iya, nungguin mamang ojek. Tadi sih bilangnya mau jemput juga jam sepuluh.” Jawab Dian ragu.

“Yaudah, pulang bareng aku aja. Kita searah kok, aku ke Sukajadi.” Tawar Jamie.

“Gimana kalo mamang ojeknya dateng kesini?”

Sejenak Jamie berpikir, “oke, kita tunggu lima belas menit sampai dia datang.”

Tembok dengan pecahan batu yang disusun secara acak menjadi sandaran mereka. Taburan bintang menemani mereka menunggu datangnya seorang yang ditunggu. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.

“Mungkin lupa dia,” kata Dian lirih.

“Yuk berangkat,” sahut Jamie

Roda dua itu menggilas jalanan Bandung yang dingin dikecup udara malam. Lalu lintas cukup lengang, tak butuh waktu lama untuk mereka berdua turun dari bukit itu dan berbelok di jalan Setiabudi. Bangunan klasik yang elegan nampak di sebelah kanan, jalan yang mereka lalui mengelilingi setengah bangunan tersebut. Bergulir menuju jalan Sukajadi, melewati pusat berbelanjaan yang jadi incaran para wisatawan, lewat satu perempatan berbelok ke kanan dan berjalan bersisian dengan jalan layang Pasopati. Tak jauh dari situ, sampailah mereka di tempat tujuan.

“Thanks ya Jam,” kata Dian. “Kalo gak ada kamu, mungkin aku jalan kaki dari sana sampai ke rumah”

“Sama – sama, aku langsung berangkat ya.” Balas Jamie.

“Eh bagi nomor kamu dong, siapa tahu kita bisa nonton musik bareng lagi.”

“Aku catat nomor kamu aja ya, kan punyamu habis baterai.”

Dian menyambar telepon genggam Jamie dan menuliskan nomor telepon, lengkap dengan nama lengkapnya.

Motor Jamie melaju memutar arah sambil memberikan lambaian tangan sebelum sosoknya benar – benar hilang tersamar gelapnya malam. Semesta mempertemukan mereka berdua malam itu dengan cara yang tidak terduga, membagi cerita melalui mereka berdua. Dua sosok yang terhubung oleh musisi yang sama – sama disukai. Tapi lebih jauh dari itu, ada kesamaan visi yang tak terungkap lewat kata, namun tersampaikan lewat rasa.

Bagian Ketiga : Rahasia Kecil

Bandung, Desember 2013

Tiga ekor kuda besi melaju diatas aspal halus jalan Laswi Bandung. Beberapa waktu yang lalu, Bandung baru saja meresmikan pembukaan sebuah taman kota tematik yang diperuntukkan bagi para penghuni kota Kembang dan wisatawan yang melancong. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di taman yang ada di sekitar jalan Riau Bandung. Jamie memarkirkan sepeda motornya, lalu disusul Edi yang membonceng Soni dan motor Ari yang datang belakangan.

“Yuk sebelah sana, deket pohon gede biar adem,” ajak Dian yang baru saja turun dari bangku belakang motor Jamie.

Soni berlari menyusul Dian dan bersegera menggelar alas plastik bergambar ular tangga raksasa.

“Jadi kita ke taman buat main ular tangga?” ledek Edi dengan tawa lebar.

“Gak lah Ed,” sahut Soni dengan wajah kesal. “Ini punya adikku, lagian si Jamie ngajak piknik di taman pake dadakan segala.”

“Iya nih, tau si Jamie,” timpal Ari yang datang membawa kotak makanan seukuran tiga kali kotak bekal makan siang. “Untung ibuku baru masak gorengan banyak, jadi kubawa kesini semua.”

Satu per satu dari mereka duduk di atas alas itu dan mengelilingi kotak yang dibawa Ari.

“Nih aku tambahin ayam goreng ceu Edoh,” kata Jamie sambil menyodorkan bungkusan hitam.

“Loh belinya kapan?” Tanya Dian.

“Tadi, sebelum aku jemput kamu Di,” balas Jamie

“Pake nasi kan Jam?” Giliran Edi bertanya.

“Tos tangtos Ed, pake nasi porsi full,” balas Jamie.

“Mantap!” Teriak Edi dan Soni berbarengan.

Mereka semua mulai membuka bungkusan yang dibawa Jamie barusan dan menyantap dengan lahap sajiannya.

“Aku habisin gorengannya ya Ri?” Soni berbicara dengan mulut yang penuh nasi.

“Makan aja semuanya kalo sanggup mah,” sahut Ari sambil terkekeh.

Sementara mereka asik dengan makanannya, Dian mencoba memperhatikan sekelilingnya. Mendapati hal yang baru bagi dirinya pun bagi teman – temannya, piknik sambil botram di taman.

“Jam, kenapa sih kita kesini hari ini?” Tanya Dian penasaran.

Jamie menelan makanan yang dikunyahnya sebelum mulai berbicara. “Biar ngerasain piknik ’72 ala Naif,”

“Memangnya kalian pasangan baru?” sahut Edi. “Udah pacaran satu setengah tahun juga.”

“Emang iya ya?” canda Jamie. “Kok gak kerasa ya Di?”

Dian menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum. Sontak gelak tawa pecah dari teman – temannya.

“Eh, aku penasaran gimana kalian berdua ketemunya?” tanya Soni.

Dian tersedak dan buru – buru menyambar botol minum dari tasnya. “Udah gak usah dibahas, bahas yang lain aja.”

“Iya tuh si Jamie gak pernah cerita juga, tahu – tahu jadian aja,” timpal Edi yang baru selesai dari suapan terakhirnya.

“Jadi?” kekeuh Soni bertanya.

Dian dan Jamie berpandangan dan hanya melempar senyum pada Soni yang disusul tawa dari mereka berdua.

Sisa sore itu mereka habiskan degan berbincang tentang apa saja yang ada di sekitar mereka, membicarakan hobi, membicarakan makanan, sampai membicarakan kehidupan.

*

Jingga perlahan berselimutkan kelabu menuju hitam, Jamie dan kawan – kawan memutuskan untuk segera pulang.

“Makasih banyak ya semuanya sudah mau menghadiri dan memenuhi undanganku,” kata Jamie saat semua sudah siap berangkat diatas motornya masing – masing.

“Cie undangan,” teriak Edi.

“Apa sih Ed,” balas Jamie dengan gelak tawa.

“Yuk berangkat semuanya,” sahut Ari.

Roda kuda besi itu menggilas jalurnya masing – masing. Edi dan Soni bergerak menuju jalan Laswi lalu belok di perempatan buah batu. Sementara Ari bergerak menuju jalan Supratman, belok kearah jalan Katamso dan masuk ke gang di sebelah kiri.

Jamie dan Dian bergerak menuju Surapati untuk naik ke fly over Pasopati.

“Jam, masih inget awal pertemuan kita gak?” Tanya Dian dari jok belakang motor.

“Iya masih inget, kenapa gitu Di?” Tanya Jamie penasaran.

“Aku punya rahasia kecil, sebenernya waktu itu bateraiku gak habis. Sebenernya waktu itu aku cuma pura – pura habis baterai saja,” ungkap Dian.

“Eh Kenapa?” Tanya Jamie kaget.

“Aku udah kagum sama kamu dari beberapa waktu sebelum kita ketemu. Aku udah sempet merhatiin kamu gitu, aku tau musik kamu, aku juga tau lirik – lirik kamu. Tapi, jauh dari itu, aku mengagumi kamu sebagai seorang kamu yang bersahabat sama semua orang, kamu yang mudah disayangi semua orang, Makanya waktu itu aku memberanikan diri untuk sok dekat sama kamu. Untungnya kamu gak bereaksi negatif waktu itu. Aku seneng bisa sama kamu … “ kalimat itu terhenti dan berganti dengan sebuah pelukan yang semakin erat.

Dian melihat senyum Jamie yang lebar dari kaca spion sebelah kanan.

“Aku juga seneng bisa sama kamu Di,” balas Jamie

Dian dan Jamie berharap jarak tempuh jalan Riau menuju Pasteur lebih lama dari biasanya. Rahasia kecil itu berhasil meletupkan kembali perasaan bahagia yang melonjak dalam dada.

I love you Dian,” bisik Jamie

Love you too Jamie.”

Bagian Keempat : Perang Batin

Sepeda motor itu sampai di gerbang hitam rumah Dian. Pintu gerbangnya bergeser membuka, muncul sosok wanita berjilbab biru. Jamie refleks menyambar tangan wanita itu.

“Assalamualaikum Bu,” ucap Jamie sopan sambil menyentuhkan dahinya ke punggung tangan wanita itu.

Disusul Dian yang melakukan hal yang sama pada ibunya.

“Waalaikum salam,” jawabnya. “Masuk dulu dek Jamie?”

“Saya langsung aja Bu,”

Motor Jamie melaju meninggalkan rumah itu.

“Mau kemana Bu?” Tanya Dian.

“Mau ke warung dulu beli teh buat Bapak,”

Dahi Dian mengerenyit. “Eh, Bapak pulang hari ini? Kok gak bilang?”

“Udah masuk gih, salam sama Bapak,” sahut Ibunya sambil berlalu menuju warung.

Dian mengambil langkah kecil masuk ke halaman rumahnya dan menutup pintu gerbang itu. Membuka pintu depan dan mendapati Bapaknya sedang duduk sambil menerawang beberapa kertas di tangannya. Kertas itu berpindah ke meja ketika Dian masuk. Dian memberi salam dan menyentuhkan dahinya ke punggung tangan ayahnya, sama seperti yang dilakukannya di luar.

“Habis dari mana teh?” Tanya Bapaknya.

“Main sama temen – temen pak,” jawab Dian.

“Sama ‘dia’ lagi?”

Dian tahu siapa yang dimaksud oleh bapaknya. Ada rasa enggan untuk mengiyakan, namun kenyataannya adalah benar.

“Susah kamu ini dibilanginnya, mau jadi apa kamu sama anak band kayak gitu?

Kalimat itu membuatnya merasa semakin terpojok, bingung harus menjawab apa. Pernyataan yang sama selalu keluar dari bapaknya ketika mendapati dirinya pergi bersama Jamie, kekasihnya. Ada hening yang tercipta dari kejadian tersebut.

“Tehnya abis Pak,” kata Ibunya yang datang dari pintu depan yang mencairkan dua kutub yang sama – sama dingin. “Ibu beli kopi aja jadinya.”

Perlahan Dian melangkahkan kaki menuju kamar tidurnya, pertanda perang dingin telah usai.

“Jangan terlalu keras sama Dian Pak,” bujuk Ibunya.

“Mau sampai kapan Bu?” timpal Bapaknya. “Bapak tuh mau yang terbaik buat Dian.”

“Ibu juga ngerti Pak,”

“Yo wes lah, buatkan saja kopinya Bu,”

*

Keesokan harinya, Dian berkunjung ke rumah Ari. Sejak kecil, Dian sudah terbiasa untuk main ke rumah Ari, mereka adalah teman sedari sekolah dasar.

“Assalamualaikum Ri,” Dian mengetuk pintu depan rumah yang setengah terbuka.

“Waalaikum salam,” jawab Ari dari ruang tengah dan bersegera ke pintu depan.

Ari memperhatikan raut wajah Dian dengan mata yang sembap, seolah sudah menguras habis air mata semalamam.

“Lagi Di? Tanya Ari pada Dian seolah sudah sama – sama tahu apa yang dimaksud.

Dian membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.

“Mah, ada Dian nih.” Teriak Ari dengan suara lantang yang bisa terdengar sampai ke dapur.

Dari dapur, Ibu Ratih melangkah ke dekat tangga yang ada di ruangan tengah. “Eh ada neng Dian, apa kabar Ibu kamu?”

“Baik Tante,” jawab Dian pendek.

“Tante tinggal dulu ya, lagi masak sayur sop nih. Ngobrol dulu aja ya sama Ari”

“Yaudah naik ke balkon yuk,” ajak Ari.

Dian dan Ari berjalan menaiki tangga untuk sampai di balkon atas rumah Ari, tempat favorit Dian untuk curhat. Keduanya duduk di kursi putih bermotif bunga yang terbuat dari besi.

“Ri, aku bingung,” ucap Dian lirih.

“Bingungnya?”

Dian mengambil nafas panjang dan mengembuskannya dengan keras, melepaskan sesak yang terasa di dada. “Bingung aja mesti ngapain.”

“Okay?”

“Kamu tahu kan aku sama Jamie udah hampir dua tahun, dan selama itu pula aku dan Jamie berjuang untuk dapat restu dari orangtuaku. Jamie sudah berusaha deketin mereka, tapi … “

“Tapi?”

“ … tapi Bapak belum setuju. Kalo Ibu terserah Bapak.”

Telapak tangan kiri Dian menopang dagunya yang mendaratkan diri di sana. “Lama – lama aku jadi ragu buat terus lanjut,”

“Maksudnya?” Tanya Ari kaget.

“Entahlah, aku merasa perang batin setiap kali ketemu sama Bapak,” jelas Dian. “Di satu sisi, aku sayang Jamie. Di sisi lain, aku juga gak mau hubunganku sama Bapak jadi renggang. Aku musti gimana Ri?”

Ari terdiam sejenak, cerita ini beberapa kali sudah didengarnya. Namun, dia tak pernah mendapatkan jawaban pasti karena bukan dirinyalah yang menjalani hubungan rumit itu.

“Mungkin kamu harus nyoba ngobrol lebih serius sama Jamie soal ini,” kata Ari sembari mencoba menenangkan Dian yang nafasnya mulai naik turun.

“Take it or leave it maksudnya?” tutup Dian dengan pertanyaan retorika.

Bagian Kelima : Pengakuan

Awan mendung mulai menyelimuti langit Dago sore itu, membungkusnya dalam nuansa kelabu. Jamie berbalapan dengan hujan yang akan segera tiba. Namun dirinya berhasil memarkirkan motornya lebih dulu dibandingkan sang hujan.

“Padahal masih jam tiga sore, tapi udah gelap banget ya,” kata Jamie sambil melirik jam di tangan kirinya.

Jamie bergegas turun dari motor, bergerak menuruni beberapa anak tangga sebelum masuk ke kedai kopi yang menyatu dengan ruang seni yang biasa digunakan untuk pameran. Pandangan Jamie memindai keberadaan Dian yang katanya sudah lebih duluan datang. Di pojok kiri dekat dengan pohon besar yang sekelilingnya ditutupi kanopi, terlihat Dian melambaikan tangannya sebagai isyarat keberadaannya.

“Hai Di, udah lama nunggu?” Tanya Jamie.

“Lumayan, sekitar lima belas menitan,” jawab Dian.

Jamie mengambil posisi, duduk disebelah kiri Dian.

“Pasti mau pesen mochaccino latte kan?”

“Sama cireng seporsi ya,” sahut Jamie sambil menunjuk satu gambar yang ada dalam menu seukuran kertas A3.

Dian menuliskan pesanan Jamie dan menambahkan secangkir cokelat hangat sebagai tambahan untuk dirinya. Seorang pramusaji mendekat setelah Dian memberi aba – aba siap untuk memesan. Pramusaji itu mengulang pesanan mereka berdua, namun matanya memerhatikan sosok Jamie yang ada di sebelah kiri Dian.

“Teteh kenal saya?” Tahu – tahu Jamie melempar pertanyaan todongan seperti itu.

“Iya, semalem saya nonton kang Jamie manggung di acara bersenandung bersama alam di hutan kota,” jawabnya. “Boleh minta foto bareng kang?”

“Oh boleh silahkan.”

Kaku, gadis itu mengeluarkan telepon genggam dan bersiap dengan kameranya.

“Sini teh, biar aku aja yang fotoin,” kata Dian sambil beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di sebelah gadis itu.

Dian menyerahkan telepon genggamnya kembali setelah selesai mengambil gambar dan kembali duduk di samping Jamie.

“Deuh, si Aa yang udah jadi artis sekarang mah euy,” goda Dian sambil terkekeh.

“Apa sih,” balas jamie sambil tertawa lebar. “Tumben ngajakin ngopi lagi kesini?”

“Gak kenapa – kenapa, lagi pengen aja ngopi sama kamu,” jawab Dian sambil memegang tengkuknya.

Jamie sangat hafal kebiasaan Dian ketika sedang menyembunyikan sesuatu. Tak perlu menganalisa jawabannya, Jamie cukup memerhatikan tangan Dian yang selalu bergerak menuju tengkuk ketika dirinya sedang menyembunyikan sesuatu.

“Beneran?” Tanya Jamie

“Iya beneran Jam,” balas Dian.

“Aku tanya sekali lagi nih ya?” bujuk Jamie. “Beneran?”

Tangan kanan Dian bergerak menuju lengan kiri atasnya dan menggaruk bagian itu sekalipun tak terasa gatal. Wajah itu terangkat dengan senyuman yang terasa berat setelah beberapa saat harus menunduk menyembunyikan rasa.

“Kenapa sayang?” Jamie bertanya sambil meraih kedua tangan Dian.

“Aku bingung Jam.”

“Bingung kenapa?” Genggaman Jamie semakin erat. “Ada aku disini..”

Sorot mata Dian menangkap sorot mata Jamie, mata mereka beradu pandang. Sorot itu penuh harapan akan sebuah kemungkinan yang selalu mereka harapkan dan usahakan.

“Justru ini soal kita,” lirih Dian berkata.

“Soal hubungan kita?” Jamie mencoba menerawang maksud Dian. “Soal Bapak lagi?”

Dian menjawabnya dengan anggukan kecil. Jantungnya mulai berdebar, napasnya mulai tersengal. Perlahan, hangat air mata mulai mengalir di pipinya bersamaan dengan hujan deras yang langsung mengguyur atap yang mereka diami.

“Aku … pengen terus sama kamu ….” Perlahan kata – kata yang tertahan mulai mengalir. “Tapi, aku juga gak mau punya hubungan yang renggang sama bapak.”

Jamie menghela nafas panjang, berusaha menyadari apa yang barusan dikatakan oleh Dian. Lengannya bergerak meraih tubuh Dian dan menghempaskannya dalam sebuah pelukan yang sarat emosi. Pikiran Jamie menerawang kemana – mana, mencari sebuah pijakan yang masih bisa untuk ditapaki. Jamie berpikir bahwa usahanya selama ini ternyata tak membuahkan hasil sama sekali. Restu tak pernah terucap sekalipun dari kedua orangtua Dian. Selama ini mereka berjalan tanpa restu dan momen ini adalah puncak dari semua penolakan yang terjadi.

“Pasti ada cara lain Di,” Jamie berusaha meyakinkan.

Air mata semakin mengalir deras dari sumbernya dan mulai membasahi kemeja Jamie. Dian bingung harus memilih antara berjalan dengan Jamie namun hubungannya dengan Bapak menjadi renggang atau berjalan tanpa Jamie dengan harapan hubungan dirinya dengan Bapak kembali membaik.

Perlahan, Dian melepaskan rengkuhan itu, menyeka air matanya, berusaha mengeluarkan kalimat terakhirnya. “Jujur aku bingung, mungkin ini akhir dari kita.”

“Gak Di, aku gak siap Di,” jawab Jamie.

“Gak akan ada yang pernah siap untuk hal ini, termasuk aku,” balas Dian. “Aku gak mau terus – terusan bikin kamu juga tertekan sama keadaan ini, kamu udah baik banget mau ngerti dan mengalah terus menerus.”

Lama, hening tercipta diantara mereka. Keputusan besar harus segera mereka ambil. Berat, namun harus diputuskan.

“Setidaknya kita pernah berusaha bersama dan berjuang bersama untuk hubungan kita ini,” jelas Jamie.

“Semoga ini yang terbaik untuk kita,” tutup Dian sore itu menuntaskan segala keresahan yang dirasa.

…………….. bersambung ya 😉 pantau terus ceritanya.